Jumat, 03 Agustus 2012

Setetes Embun Untuk Mama

Mama…
Ya, itulah sapaan sayangku untuk seorang “malaikat” yang selalu memberikan arti dalam setiap detik kehidupanku. Mama menjadi penyemangat buatku saat aku merasa sedih, saat aku merasa bosan, saat aku merasa lemas, dan juga saat aku terbaring lemah di pebaringan karena sakit. Mama rela menghabiskan sebagian dari waktunya hanya demi merawatku. Mama juga rela menghabiskan hari-harinya untuk mengurusku sejak aku berada dalam kandungan hingga kini aku menginjak umur 15 tahun, dan bila Tuhan mengijinkan, bulan desember depan aku akan
melangkah ke umur 16 tahun. Dan orang yang paling berperan penting adalah Mama. Mama yang sabar mengandungku selama Sembilan bulan, Mama yang mengorbankan hidup dan matinya hingga aku boleh hadir ke dunia ini, Mama juga yang telah mengajarku dengan penuh kasih saying. Satu pertanyaan yang menjadi beban dalam hidupku yaitu, apakah yang dapat aku berikan kepada Mama untuk membalas semua jasa-jasa bunda selama ini?. Namun, yang terjadi malah aku selalu membentak-bentak Mama, aku selalu melawan setiap perkataan Mama, saat Mama menasehatiku aku selalu saja membantah karena membela diri demi rasa egoku. Aku bohong demi kepuasanku, dan bahkan sering aku mengucapkan kata-kata kasar yang tak pantas Mama dengar dari bibirku. Tapi, ternyata Mama memendam rasa kekecewaannya kepadaku, bahkan Mama selalu mendoakan aku di setiap larik-larik doanya agar aku menjadi anak yang berbakti dan bahagia di masa depan.Tuhan.. mau jadi apa aku nanti? Aku ini hanya anak durhaka yang tak biasa menghargai segala pengorbanan Mama selama ini, Dasar kolot!. Betapa berdosanya aku ini melihat orang yang paling menyayangiku, orang yang rela melakukan apapun demi melihatku tersenyum, yang paling care terhadapku selalu aku bentak, selalu aku lawan, selalu aku marahi,  hanya karena masalah sepele yang mungkin bagi orang lain, itu sangat tidak berarti dan mungkin hanya dianggap sebagai lelucon belaka.
            Bulan januari yang lalu, Mama berulang tahun. Namun, apakah yang dapat aku berikan untuk Mama?. Tak ada sama sekali!!, sedangkan bila aku berulang tahun, Mama langsung merangkulku saat aku bangun dari tidurku, kemudian Mama memelukku dengan erat sambil mengatakan “Slamat ulangtahun nak, panjang umur,murah rejeki dan bijak sllu dalam hidup.Kemudian Mama memberikan sebuah hadiah yang sangat berarti walau hadiah tersebut bukanlah barang yang selama ini aku damba-dambakan. Setelah mendengar dan melihat semua itu, aku terdiam kaku tak bisa berkata banyak, aku hanya bisa menangis haru dan berkata “Trimakasih Mama” sambil aku memeluk Mama. Aku mulai merenungi kata demi kata yang diucapkan Mama untukku dan sebuah hadiah yang sangat berarti itu. Aku bertanya pada diriku, pernakah aku melakukan hal seperti ini bila Mama berulangtahun?. Jarang..!!!. aku hanya mencium tangan Mama dan mengucapkan selamat ulangtahun. Dan yang paling menyedihkan buatku adalah, bila aku diajak Mama untuk pergi ke pasar untuk menemani Mama. Aku selalu merasa malu mencari segala alasan agar aku tak jadi pergi dengan Mama.
Hingga suatu hari, aku di ajak paman untuk bersekolah di Jakarta dan sekaligus tinggal di sana. Saat paman menawarkanku untuk pergi, aku sempat bingung. Aku gelisah harus meninggalkan Mama sendirian di rumah, tanpa kakak, adik, dan ayah. Tak bisa ku bayangkan bila bunda tak ada di sisiku dalam waktu yang lama. Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan tentang hal tersebut. Keeseokan harinya, aku meminta persetujuan kepada Mama tentang tawaran paman. Aku melihat raut wajah mama yang sedikit sedih karena aku akan pergi meninggalkannya. Namun, entah mengapa mama menyetujui akan tawaran paman. Akhirnya paman memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dua hari setelah hari tersebut. Tibalah pada hari itu, semuanya telah kusiapkan, aku menghampiri mama, ku peluk dia dan berkata dalam tangis, “ma… aku mau pergi, jaga kesehatan mama saat aku jauh dari mama, jangan biarkan kepergianku menjadi beban untuk mama hingga mama sakit. Aku takut itu ma…”. Mama ikut menangis tak mampu berkata apa-apa. Aku diantar paman dengan kendaraan pribadinya ke Bandara, bunda berlari dan memelukku lagi dan menangis. Aku berkata dalam hatiku, “oh Tuhan… kuatkanlah aku untuk berpisah dengan mama”. Sedih rasanya harus berpisah dengan mama.
Sesampainya di bandara, waktunya untuk chek in. Saya bergegas untuk mengecek tiket yang sudah di booking oleh paman. Peringatan tentang pesawat yang akan kai tumpangi segera berangkat.
Tak terasa, sudah 3 tahun lebih aku tinggal disana tanpa ada kontak apapun dengan Mama. Hingga pada suatu hari, aku sangat rindu untuk bertemu dengan Mama, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Tapi, paman tak mengijinkannku untuk pulang menemui Mama. Aku harus tinggal lagi selama setengah tahun untuk menyelesaikan semua urusan di sekolahku. Sedih hati ini, namun aku mencoba untuk tetap tegar. Sampai suatu hari, aku duduk di ruang tamu bersama paman menonton TV. Tidak sengaja paman memindahkan canel TV tentang bencana alam. Dengan teliti, aku memerhatikan bencana alam tersebut, ternyata bencana alam itu terjadi tepat di kampung halamanku tepat dimana Mama tinggal.  Aku kaget setemgah mati dan menangis takut akan bencana tersebut mencelakakan Mama. Tanpa Tanya lagi aku langsung bertolak ke kampung asalku tanpa memperdulikan perkataan paman.
Setibanya disana, aku langsung mencari dan terus mencari dimana Mama. Karena semua rumah di tempat aku tinggal telah rata dengan tanah. Aku mencari kesana tak ada, aku mencari kesini juga tak ada. Harapanku pupus saat tak menemukan Mama. Aku berjalan tanpa tahu kemana aku harus mencari Mama. Terdengar dari sebelah utara suara yang agak keras memanggil namaku. Sontak aku langsung melihat kesana berharap itu adalah Mama. Dan ternyata, itu bukan mama dia adalah sepupuku. adalah Mama. Aku berlari menghampirinya. “Dimana mamaku?”. “Mamamu ada di pengungsian, tak jauh dari sini.” Jawabnya. Aku berlari tanpa memerhatikan apapun yang ada di depanku menuju ke tempat pengungsian. Ternyata benar, Mama ada disana. Aku berlari dan langsung mendapati Mama dan memeluk Mama dengan erat. Aku mendapati tubuh Mama yang dulu besar, kini mulai  mulai kurus. Aku berkata kepada Mama, “ma… aku sangat rindu sama Mama, hari-hariku sepi tanpa mama disisiku”. Kami pun berceritra tentang semuanya yang terjadi selama aku pergi. Akupun memutuskan untuk mengajak bunda tinggal di Jakarta bersama paman.
Bagaikan sebuah bunga yang takkan pernah mekar saat matahari jauh darinya, seperti itulah diriku saat Mama jauh dariku apalagi bila bunda pergi untuk selamanya bersama sang Khalik. Tak dapat ku bayangkan hidupku bila Mama pergi meninggalkanku. Mungkin aku akan menjadi seekor brung kecil yang hanya memiki satu sayap dan takkan pernah bisa terbang jauh di angkasa menjalani kehidupan di dunia ini.
Ternyata, sungguh besar arti seorang Mama dalam hidupku. Kini aku mulai menyadarinya, kini aku mulai memahaminya. Mama, maafkanlah aku atas segala ke hilafanku selama ini, maafkan segala keegoisanku. Aku selalu membentak Mama, marahin Mama, bahkan aku pernah mengucapkan kata-kata yang tak pantas keluar dari bibir seorang anak kepada ibunya. Inilah diriku Mama, aku akan memperbaiki segala sikapku selama ini dan aku ingin Mama jangan pernah meninggalkanku walau hanya sekejap mata.

Mama …
di akhir ceritaku ini walaupun Mama tak membaca cerita ku ini, aku ingin mengatakan bila aku sangat sayang sama Mama, aku ingin selalu berada di dekat Mama, membahagiakan Mama, menjaga Mama, hingga nanti aku menutup mata. Karena Mama, “Everything for me”.



Pembaca yang budiman, satu pesan saya kepada kalian tentang Mama. Jagalah Mama kalian, sayangi dia, jangan pernah menggoreskan lara di hatinya. Karena kita takkan pernah tahu kapan Mama akan pergi meninggalkan anda. Dan mungkin saja, ini adalah kesempatan terakhir anda bercengkrama dengan sosok seorang “Mama”

Ditulis Oleh : Unknown // 23.55
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About